I Don’t Get It!

Ada beberapa orang yang bilang, some questions are better left unanswered. Ntah itu pernyataan ada benernya, atau sekedar membesarkan hati karena jawabannya sebenernya sungguh tidak enak. :mrgreen:

Anyway, dari dulu saya punya banyak pertanyaan-pertanyaan lari-lari di dalam benak saya. Kenapa ini? Kenapa itu? Makin hari bukannya berkurang malah makin bertambah banyak. Ra uwis-uwis gitu lah kalo kata temen-temen di twitter. :mrgreen:

Beberapa hari belakangan ini, karena satu dan lain hal, ada beberapa pertanyaan yang mampir ke benak saya dan terus berputar-putar karena saya bener-bener ngga ngerti dan ngga nemu jawabannya.

apakah pertanyaan-pertanyaan itu?

Tentang Luka, Bekas Luka dan Kisah Masa Lalu

Oke, saya memang suka nonton film kartun. Dari dulu. Karena film kartun semacam obat untuk otak saya yang lelah sepanjang hari dipakai bekerja. Oh ngga.. Ini bukan semacam penasbihan kalo saya punya otak dan otak saya itu saya pakai. Bukan macam orang tua yang itu. :mrgreen: Ini penegasan dari kata-kata “laughter is the best medicine” dari orang-orang yang “katanya” bijak. Dan saya meng-amini. Makanya saya suka nonton film kartun.

sumpah ga ada spoiler apapun di sini :mrgreen:

Coklat Vanilla

Mereka berjalan beberapa meter di depan saya, tampaknya saling berpegangan tangan. Percakapan mereka sungguh menarik, dan saya bisa mendengar semua yang mereka katakan meskipun saya tidak benar-benar niat untuk mendengarkan percakapan mereka. I’m not spying on them as well… cuma kebetulan berjalan ke arah yang sama saja.

Mereka berhenti di depan sebuah toko es krim. Ntah kenapa saya tidak bisa melarang otak saya untuk berpikir “tawarin pacar mu sesuatu dari situ, be a gentleman!”. Aduh otak saya sungguh nakal! 

Tapi toh ternyata si laki-laki memang memutuskan mengajak perempuannya masuk ke dalam toko itu. Saya tersenyum dan bertepuk tangan diam-diam di balik kantong cardigan saya. Saya tidak lagi bisa mendengarkan apa yang mereka perbincangan ketika saya melintasi toko es krim yang sama kecuali satu kata “mau coklat atau vanilla?“.

ada apa dengan coklat dan vanilla?

Guiness Arthur’s Day : LifeHouse

kredit photo : (kiri) saya sendiri, (kanan) suprie

Girls Night Out. Itu lah yang terjadi Sabtu tanggal 4 Desember kemarin itu. Ketika para lelaki memilih menonton sepak bola Indonesia versus Laos, kami para wanita memilih menonton seorang lelaki ganteng lainnya di Epicentrum Walk malam itu.. *halah lebay!* :mrgreen: Jadilah saya, Simbok Venus, Tika, Chika, Dita, Sharon dan Farah berbondong-bondong mendatangi acara Guiness Arthur’s Day malam itu demi sang Lelaki ganteng tersebut… hihihihi  Setelah aksi tunggu menunggu dan ketawa-ketawa heboh di Kopi Luwak, kami akhirnya memutuskan masuk ke dalam venue.

Ada apa di Guiness Arthur’s Day ini? Selain Lifehouse, tercatat ada 3 band lainnya yang manggung di situ, yaitu Pure Saturday, Superman is Dead (SID) dan River Maya.

siapakah lelaki ganteng itu?

Feel or Think? Heart or Head?

Tiba-tiba ada yang nanya kayak gini kemaren ke saya, do you follow your heart or head, Chic? Duh! Kok ya pertanyaannya nyusahin ya. Bikin mikir gitu lah… Mana banyak kerjaan lagi! hahahahahaha… Rese! 

Well, pertanyaan itu bikin saya jadi pengen bikin renungan ulang tahun lagi. Silahkan bosan. Tapi kalo belum bosan, ya silahkan loh dilanjutkan bacanya… *ga niat* 

lanjoooot….

Pertanyaan yang Tepat

Seorang teman bertanya kepada saya, kalo kamu dijanjikan sebuah jawaban yang jujur, kira-kira pertanyaan apa yang akan kamu tanyakan? Saya terdiam, kemudian tertawa. Kok seperti pertanyaan yang mengarah pada jawaban-jawaban narsis. hihihihihi… Soalnya, serius deh, saya pikir kalo saya sampe pengen banget dapet jawaban atau pendapat yang jujur tentang sesuatu, it’s going to be on something to do with me, am I rite?
pertanyaan apa?

Siap Pakai

Hari ini lucu sekali. Lagi asik-asik berkutat bikin draft opini, tiba-tiba ada dua curhat masuk ke YM dan BBM saya dalam waktu yang hampir bersamaan. Yang satu datang dari seorang keponakan yang baru lulus kuliah dan mengeluh tentang susahnya nyari kerjaan, yang satu datang dari seorang teman yang bekerja sebagai HRD sebuah perusahaan konstruksi yang mengeluh susahnya nyari karyawan siap pakai karena kantornya barusan buka lowongan dan yang melamar hampir rata-rata out of qualification.

Dan percakapan-percakapan yang terjadi antara saya dan keponakan saya, serta saya dan teman saya membuat saya  berpikir kembali tentang ribetnya mencari pekerjaan.

apakah itu karyawan siap pakai?