Saya adalah…


 

The whole purpose of places like Starbucks is for people with no decision-making ability whatsoever to make six decisions just to buy one cup of coffee. Short, tall, light, dark, caf, decaf, low-fat, non-fat, etc. So people who don’t know what the hell they’re doing or who on earth they are can, for only $2.95, get not just a cup of coffee but an absolutely defining sense of self: Tall. Decaf. Cappuccino.

(Joe Fox, from You’ve Got Mail)

———-

Gara-gara maenan three word me, malah jadi keinget quote itu… eaaaaaaa  

So, how you see your self? Kalian berpikir seperti kalian di mata orang-orang atau punya konsep sendiri dalam menilai diri sendiri? Bagus sih punya konsep sendiri, ga gampang depresi, tapi kalo ke-pede-an juga malah menjatuhkan harga diri ga sih?  Mesti denger-denger juga apa kata orang.

Kalo belum punya konsep, mungkin sarannya Joe Fox di atas bisa dipake. Silahkan pergi ke coffee shops favorite kalian. Mungkin bisa jadi dapet konsep.

Buat saya sih, selalunya Grande (hasil upsized gratisan dari CC :mrgreen: ), decaf, Frappuccino.

#kode


Children See. Children Do.

Beberapa hari yang lalu, saya nemu video itu di postingannya Ndorokakung, dan somehow bikin saya jadi gimana gitu. Tertohok mungkin ya… Pesan di video itu jelas banget. Children See. Children do. Children imitate behaviour that they see around them : talking on a phone, body language … smoking, violence. Serem!

Lalu saya ingat Vio. Di usia-nya sekarang ini, Vio memang lagi senang-senang menirukan segala sesuatu. Ntah itu kata-kata, perilaku dan lain sebagainya. Contoh paling deket sih, saya punya aplikasi yang judulnya Animal Sound di iPhone saya. Buat mainan Vio memang. Di aplikasi itu ada bermacam-macam jenis binatang lengkap dengan suaranya. Saya sih ngga pernah secara khusus mengenalkan Vio soal suara-suara binatang. Paling ya yang deket sama sehari-hari deh, kayak suara kucing atau ayam. Nah, pas kapan tau, saya lagi bacain buku yang saya baru beli buat Vio. Di situ ada gambar hewan-hewan di kebun binatang. Ada satu hewan saya tunjuk, tiba-tiba Vio dengan lantang mengeluarkan suara persis kayak hewan yang saya tunjuk. Sumpah saya kaget, karena ga nyangka Vio tau suara hewan itu. Waktu saya tanya tau dari mana, serta merta dia menunjuk iPhone saya. *dang*

Bisa tebak hewan apa yang suaranya ditirukan Vio? Gajah, sodara-sodara. :|  Padahal ya, liat aslinya belum pernah itu anak. *ah mengingatkan saya kalo belum pernah jadi ngajak Vio ke kebun binatang* *doh*

mari ngomongin anak-anak…

Safe or Sorry?

It’s better safe, or sorry?

Sumpah, susah bener menjawab pertanyaan itu. Ada moment-moment di mana saya memilih “selamat” dari pada “menyesal”. Tapi ada pula yang namanya “taking a risk“. Saya pernah mengajukan satu pertanyaan retoris di twitter : What is worse – Making a big mistake in life, or living the rest of your life saying “if only“? Kebanyakan sih merespon dengan living the rest of your life saying “if only.” Kenapa bikin kesalahan terbesar dianggap lebih baik? Rata-rata menjawab, karena “kesalahan” cenderung termaafkan seiring dengan berjalannya waktu kita memperbaikinya, tapi “menyesal” – ya seperti pertanyaan saya itu – bisa seumur hidup mempertanyakan “kalau saja”. Well, that’s what it’s call : taking a risk.

so, it’s better safe or sorry?