
Di dunia ini ngga ada hal yang gratis. Ntah kapan saya mulai percaya kata-kata itu. Bahkan untuk bisa “hidup” pun saya merasa selalu ada harga yang harus saya bayar.

Di dunia ini ngga ada hal yang gratis. Ntah kapan saya mulai percaya kata-kata itu. Bahkan untuk bisa “hidup” pun saya merasa selalu ada harga yang harus saya bayar.
Kata siapa batita belum bisa diajarkan untuk menyadari bahwa lingkungan itu adalah sesuatu yang perlu dijaga kelestariannya. Segera setelah seorang anak dapat memahami konsep-konsep, sebenernya mereka sudah siap untuk belajar tentang bagaimana mereka dapat ikut melestarikan lingkungan dan kenapa lingkungan itu harus dijaga.
Caranya? Gampang kok…
Mereka berjalan beberapa meter di depan saya, tampaknya saling berpegangan tangan. Percakapan mereka sungguh menarik, dan saya bisa mendengar semua yang mereka katakan meskipun saya tidak benar-benar niat untuk mendengarkan percakapan mereka. I’m not spying on them as well… cuma kebetulan berjalan ke arah yang sama saja.
Mereka berhenti di depan sebuah toko es krim. Ntah kenapa saya tidak bisa melarang otak saya untuk berpikir “tawarin pacar mu sesuatu dari situ, be a gentleman!”. Aduh otak saya sungguh nakal! ![]()
Tapi toh ternyata si laki-laki memang memutuskan mengajak perempuannya masuk ke dalam toko itu. Saya tersenyum dan bertepuk tangan diam-diam di balik kantong cardigan saya. Saya tidak lagi bisa mendengarkan apa yang mereka perbincangan ketika saya melintasi toko es krim yang sama kecuali satu kata “mau coklat atau vanilla?“.
Percaya mitos atau takhyul? Saya mendefinisikan “mitos atau takhayul” sebagai keyakinan irasional pada beberapa tindakan atau peristiwa. Iya ga sih?
Berdasarkan wikipedia, superstition (atau takhyul) is a credulous belief or notion, not based on reason or knowledge. The word is often used pejoratively to refer to folk beliefs deemed irrational, which is appropriate since irrational means “not based on reason”. Sebagai warga yang tinggal di Indonesia, rasanya masih banyak daerah di mana “orang tua-orang tua” memberikan larangan-larangan dan peringatan-peringatan berdasarkan mitos. Ya ga jauh-jauh deh, Nini saya sering banget dulu memberikan “wejangan-wejangan berupa mitos”. Pamali, istilahnya. Eh, saya ngga perlu lagi menjelaskan saya berasal dari mana kan? Nini dan Pamali sudah cukup mewakili ga? hihihihihi… ![]()
Tiba-tiba ada yang nanya kayak gini kemaren ke saya, do you follow your heart or head, Chic? Duh! Kok ya pertanyaannya nyusahin ya. Bikin mikir gitu lah… Mana banyak kerjaan lagi! hahahahahaha… Rese! ![]()
Well, pertanyaan itu bikin saya jadi pengen bikin renungan ulang tahun lagi. Silahkan bosan. Tapi kalo belum bosan, ya silahkan loh dilanjutkan bacanya… *ga niat* ![]()
Inget percakapan-percakapan gini kira-kira empat atau lima tahun yang lalu ke belakang deh…
Percakapan #1. Lokasi : Kantor
X : emang hari ini Jumat ya?
Me : eh, hari ini Rabu kok..
X : Kok lo pake batik? Pengen cepet-cepet weekend yaaaaaa…
Me : emangnya kalo bukan Jumat, ga boleh pake batik ya? (–”)
Percakapan #2. Lokasi : Mall
Y : lo dari kondangan?
Me : eh? ngga.. dari rumah kok..
Y : kok pake batik sih?
Me : emangnya batik cuma buat kondangan ya? (–”)
Percakapan #3. Lokasi : di mana aja sih…
Z : model baju lo keren deh, sayang batik…
Me : emangnya kalo batik kenapa?
Z : kesannya daster tidur gitu deeeeeh bukan buat jalan-jalan
Me : Jadi, kalo batik lantas jadi ga keren gitu ya? cuma buat bobok gitu ya? ga bisa buat jalan-jalan atau ngeceng-ngeceng? (–”)
—-

Akhir bulan lalu, saya menerima undangan launching sebuah buku dari seorang teman. Buku tentang Cinta, begitu lah katanya. Melihat nama pengarang yang tercantum di sampul depan buku itu, tentu saja bikin penasaran. Di tambah bonus VCD sebuah lagu di mana di tengah-tengah lagu tersebut seorang WS. Rendra sampai mau menyumbangkan sebuah puisi yang ditulisnya sendiri, harusnya isi buku ini adalah “sesuatu”. Ya begitu lah saya pikir
Ternyata, buku yang berjudul Satu Cinta Sebait Syair Kebenaran tersebut bercerita tentang pengalaman spiritual, yang diceritakan seorang Connie Constantia, penyanyi kondang tahun 80-an dulu (ah ya saya masih eSDe waktu itu.. hihihihi
). Pengalaman religius kalo menurut saya sih, karena berhubungan dengan pengalaman hidup Connie dalam menemukan sebuah keyakinannya akan Tuhan dan sebuah pencerahan rohani. Meski ia sendiri selalu bertanya-tanya, pesan apa yang ingin Tuhan sampaikan pada-Nya? Lalu, siapakah dirinya sehingga ia terpilih untuk melewati peristiwa ini?
Dimulai dengan mengalami trance hebat sampai 6 hari. Beberapa teman dekat pun menganggap Mbak Connie sudah gila. Tapi masa itu Mbak Connie malah bertemu dengan Tuhannya. Berbicara, mendapatkan pesan-pesan. Bahkan berperang dengan ketakutan dan kesakitannya sendiri. Pengalaman tersebut membuat Mbak Connie merasa terlahir kembali sebagai manusia baru. Meskipun masih belum menemukan jawaban yang menenangkan terhadap hakikat peristiwa yang dialaminya. Namun entah apapun maknanya, toh pada akhirnya, setelah pergulatan sekian belas tahun, Mbak Connie memilih menulis buku ini dan menyampaikan semua pesan yang diterima dari-Nya itu. Apa adanya.
Apa isi pesan-pesan-Nya itu? Ah saya tidak akan membicarakannya di sini. Silahkan mencari buku itu di toko-toko buku terdekat. Pesen on-line juga bisa kok…
Lebaran sebentar lagi…. ![]()
Photo di atas, satu-satunya kartu lebaran yang saya terima tahun ini, setelah bertahun-tahun – mungkin sekitar dua atau tiga tahun belakangan – saya sudah tidak pernah menerima lagi kartu lebaran. Padahal, sekitar tahun 90-an sampai menjelang awal tahun 2000-an, saya masih terima sekitar lebih dari 30-an kartu lebaran setiap tahunnya.
Katanya ini efek tekhnologi dan sosial media. Munculnya telephone selular dulu, sempat membuat kartu lebaran hilang pamor. Tergantikan dengan sms. Tapi masih ada yang berkirim kartu lebaran. Sekarang, rasanya sudah hilang sama sekali. Tergantikan dengan email, BlackBerry Messenger (BBM), Facebook bahkan Twitter. Agak rindu rasanya menerima sebuah kartu lebaran dalam bentuk fisik, bukan kiriman gambar di email, pesan di BBM atau wall di Facebook. ![]()